Untuk perangkat medis, memastikan kualitas dan keamanan jarum hipodermik sangat penting. Salah satu tes utama yang digunakan untuk menilai daya tahan jarum ini adalah penguji ketahanan patah jarum medis. Pengujian ini mengevaluasi kemampuan jarum untuk menahan tekanan mekanis selama penyisipan dan penarikan.

Penguji Resistensi Putus Jarum Medis NTT-01

Apa Itu Penguji Resistensi Putus Jarum Medis?

Penguji ketahanan patah jarum medis adalah instrumen khusus yang dirancang untuk mengevaluasi ketahanan patah jarum hipodermik. Alat ini bekerja dengan mensimulasikan gaya yang diterapkan pada jarum saat digunakan, terutama gaya tekukan yang terjadi saat jarum dimasukkan atau ditarik. Pengujian ini melibatkan penerapan gaya terkontrol untuk membengkokkan jarum pada sudut tertentu dan mengamati kemampuannya untuk menahan kerusakan.

Fungsi utama penguji ini adalah untuk memverifikasi bahwa jarum dapat menahan tekanan mekanis normal tanpa patah atau berubah bentuk. Hal ini memastikan bahwa para profesional medis dapat mengandalkan jarum selama prosedur, sehingga mengurangi risiko cedera atau kegagalan perangkat.

Standar ISO 9626 untuk Pengujian Jarum

ISO 9626, standar internasional yang penting untuk desain dan pengujian jarum medis, memberikan panduan tentang sifat mekanis jarum, termasuk ketahanannya terhadap kerusakan. Secara khusus, ISO 9626 Lampiran C menguraikan prosedur pengujian untuk menilai ketahanan tabung terhadap kerusakan akibat pembengkokan.

Persyaratan Pengujian ISO 9626

Menurut ISO 9626, penguji ketahanan patah jarum medis harus menerapkan gaya untuk membengkokkan jarum (atau tabung) pada jarak tertentu dari ujung tetap. Jarum harus menekuk melalui sudut 25° untuk pipa berdinding biasa, 20° untuk pipa berdinding tipis, dan 15° untuk pipa berdinding ekstra tipis atau berdinding sangat tipis. Pembengkokan ini dilakukan pada satu arah dan kemudian ke arah sebaliknya, untuk mensimulasikan tekanan yang dialami selama penggunaan yang sebenarnya.

Pengujian dilakukan dalam siklus, biasanya 20 siklus lengkap, dengan frekuensi 0,5 Hz. Jarum kemudian diperiksa secara visual untuk mengetahui adanya tanda-tanda kerusakan atau deformasi. Jika jarum bertahan dalam uji pembengkokan tanpa patah, maka jarum tersebut dianggap cocok untuk digunakan dalam aplikasi medis.

Prinsip Penguji Resistensi Putus Jarum Medis

Penguji ketahanan patah jarum medis beroperasi dengan memasang salah satu ujung jarum atau tabung pada tempatnya, sementara gaya diterapkan pada jarak tertentu. Gaya tersebut membengkokkan jarum ke satu arah dan kemudian membalikkan gaya untuk membengkokkannya kembali, mensimulasikan tekanan yang dialami selama penggunaan di kehidupan nyata.

Komponen utama penguji ketahanan patah jarum meliputi:

  • Sistem pendukung: Memegang jarum dengan aman di tempatnya selama pengujian.
  • Sistem aplikasi paksa: Menerapkan gaya tekukan yang diperlukan pada jarak yang ditentukan.
  • Sistem kontrol: Memungkinkan penyesuaian parameter uji yang tepat, seperti sudut pembengkokan, frekuensi, dan siklus.
  • Sistem inspeksi visual: Setelah pengujian, jarum diperiksa secara visual apakah ada kerusakan atau perubahan bentuk yang terlihat.

ISO 9626 Lampiran C: Prosedur Pengujian Terperinci

ISO 9626 Lampiran C memberikan prosedur yang jelas dan komprehensif untuk menguji ketahanan jarum suntik terhadap kerusakan. Lampiran ini mencakup spesifikasi untuk sudut pembengkokan, frekuensi siklus, dan metode untuk memeriksa jarum secara visual setelah pengujian.

Prosedur Pengujian Menurut ISO 9626 Lampiran C

  1. Perbaiki tabung: Salah satu ujung jarum terpasang dengan aman pada perangkat penyangga.
  2. Menerapkan gaya tekukan: Suatu gaya diterapkan untuk membengkokkan jarum pada sudut tertentu-25° untuk jarum berdinding biasa, 20° untuk jarum berdinding tipis, dan 15° untuk jarum berdinding ekstra tipis.
  3. Membalikkan gaya: Gaya diterapkan pada arah yang berlawanan untuk membengkokkan jarum ke belakang.
  4. Siklus lengkap: Gaya lentur diterapkan selama 20 siklus penuh pada frekuensi 0,5 Hz.
  5. Inspeksi: Setelah pengujian, jarum diperiksa secara visual apakah ada kerusakan atau perubahan bentuk.

Hasil Pengujian dan Dokumentasi

Setelah menyelesaikan tes, hasilnya didokumentasikan, termasuk:

  • Jenis jarum (berdinding biasa, berdinding tipis, dll.).
  • Tanda-tanda kerusakan yang terlihat.
  • Tanggal pengujian.
  • Bahan dan dimensi jarum.
id_IDID
Gulir ke Atas